Narasi Perempuan Terkini: Tetap Utuh Bahkan Ketika Relasi Runtuh

Oleh: Adzanah Mariska Salsabila dan Riska Zulpiana

Nothing lasts forever except self values, Tidak ada yang bertahan selamanya kecuali value diri. – Adzanah Mariska Salsabila

Tidak semua kehilangan datang dengan suara keras. Ada kehilangan yang tidak meninggalkan suara, tetapi meninggalkan retak yang begitu dalam. Kadang ia hadir pelan melalui pesan yang tak lagi dibalas, perhatian yang mulai menghilang, atau kepercayaan yang diam-diam runtuh. Dalam situasi seperti ini, banyak perempuan yang tidak hanya kehilangan relasi, tetapi juga perlahan kehilangan dirinya sendiri. Realitas relasi modern yang semakin kompleks ini memunculkan satu pertanyaan penting, “Apakah identitas perempuan memang harus bergantung pada siapa yang memilih untuk tetap tinggal?”

Sejak lama, perempuan dibesarkan dalam narasi yang halus tapi kuat yakni, keberadaannya akan terasa ‘lengkap’ ketika ia dicintai, dipilih, dan dipertahankan. Narasi ini tidak selalu disadari, tetapi terus direproduksi dalam keluarga, lingkungan, sampai pada media.

Peter L. Berger dan Thomas Luckmann menjelaskan dalam The Social Construction of Reality (1966) bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses konstruksi yang terus-menerus hingga tampak sebagai sesuatu yang alamiah. Dalam konteks ini, ketergantungan emosional perempuan bukan hanya kodrat, melainkan hasil pembiasaan sosial yang panjang. Akibatnya, ketika relasi itu runtuh, baik karena konflik, pengkhianatan, atau perpisahan, yang hancur bukan hanya hubungan, tetapi juga rasa nilai diri.

Pemikiran Simone de Beauvoir mengkritik bagaimana perempuan kerap ditempatkan sebagai “the other”, yaitu pihak yang didefinisikan melalui laki-laki atau relasi yang dimilikinya seperti argumentasinya dalam The Second Sex (1949), “One is not born, but rather becomes, a woman” yang mengungkapkan bahwa perempuan bukan tentang memenuhi ekspektasi sosial, melainkan tentang proses membangun diri secara sadar. Maka, ketika relasi runtuh, seharusnya yang goyah bukanlah nilai diri karena sejak awal nilai itu tidak pernah berasal dari relasi.

Ketahanan seseorang saat menghadapi kehilangan sangat dipengaruhi oleh self-worth dan resilience. Carl Rogers menjelaskan bahwa individu yang memiliki penerimaan diri tanpa syarat (unconditional positive regard) tetap mampu memandang dirinya berharga, bahkan ketika mengalami penolakan atau kegagalan. Sementara Ann Masten mengartikan resiliensi sebagai “ordinary magic”, yakni kemampuan bertahan yang secara alami dimiliki setiap individu. Dari sini dapat dipahami bahwa keutuhan perempuan tidak menuntut dirinya menjadi sosok yang luar biasa, melainkan cukup dengan kesadaran bahwa nilai dirinya tidak pernah ditentukan oleh siapa yang datang ataupun pergi dalam hidupnya.

Realitas relasi menunjukkan bahwa perselingkuhan dan perceraian sering menjadi titik paling rapuh yang tidak hanya mengguncang hubungan, tetapi juga menguji ketahanan diri perempuan. Pengkhianatan kerap menimbulkan luka yang lebih dalam dari sekadar perpisahan karena merusak kepercayaan sekaligus menggoyahkan harga diri. Namun, penting disadari bahwa retaknya relasi akibat perselingkuhan bukanlah cerminan dari kurangnya nilai seorang perempuan, melainkan kegagalan pihak lain dalam menjaga komitmen. Perceraian pun, meski menyakitkan, tidak seharusnya dimaknai sebagai kegagalan personal, melainkan sebagai keputusan untuk keluar dari situasi yang tidak lagi sehat. Pada titik ini, perempuan tidak dituntut untuk tetap bertahan dalam luka, tetapi justru diajak untuk bangkit dengan kesadaran bahwa dirinya tetap utuh, bernilai, dan berhak atas kehidupan yang lebih bermakna.

Dalam perspektif Islam, nilai manusia tidak pernah ditentukan oleh status relasinya. Allah Swt. menegaskan dalam surah al-Hujurat ayat 13, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa”. Relasi dalam Islam dibangun atas amanah dan kepercayaan, sehingga pengkhianatan adalah hal yang dilarang (QS. al-Anfal: 27). Namun, ketika amanah itu dilanggar, yang perlu dijaga bukan hanya hubungan, melainkan juga kehormatan diri. Perempuan yang disakiti tidak kehilangan nilainya di hadapan Allah. Justru dalam kesabaran, keteguhan, dan kemampuannya menjaga diri, terdapat bentuk kemuliaan yang tidak terlihat, tetapi sangat berarti.

Menjadi perempuan utuh bukan berarti tidak pernah terluka. Sebaliknya, keutuhan seringkali justru lahir dari pengalaman kehilangan. Barangkali sudah saatnya narasi perempuan diubah. Bukan lagi tentang siapa yang memilih bertahan, tetapi tentang bagaimana perempuan tetap memilih dirinya sendiri. Relasi bukan pusat kehidupan, ia hanyalah salah satu bagian dari perjalanan. Ketika perempuan benar-benar mengenal dirinya, memiliki arah hidup, dan berdiri di atas nilai yang ia yakini, maka kehilangan tidak lagi menjadi sesuatu yang menghancurkan, melainkan sekadar fase yang mempertegas siapa dirinya dan seberapa kuat ia mampu bertahan.

Pada akhirnya, hidup tidak selalu memberi kita relasi yang bertahan, tetapi selalu memberi kita kesempatan untuk kembali pada diri sendiri. Perempuan yang utuh bukanlah mereka yang tidak pernah kehilangan, melainkan mereka yang tidak menyerahkan nilai dirinya kepada siapa pun yang datang dan pergi. Sebab yang paling penting bukan tentang siapa yang memilih tinggal, melainkan apakah kita tetap memilih untuk berdiri, mengenali diri, dan melangkah dengan utuh. Karena ketika segalanya berubah, satu hal yang tidak boleh ikut hilang, diri kita sendiri.

“Nilai perempuan tidak pernah ditentukan oleh siapa yang memilih bertahan, tetapi oleh bagaimana ia tetap berdiri ketika ditinggalkan”, Adzanah Mariska Salsabila dan Riska Zulpiana.

Bandung, 8 April 2026.

 

Author:

Adzanah Mariska Salsabila (Duta Inspirasi Indonesia 2025)

Riska Zulpiana (Duta GenRe Kepulauan Bangka Belitung 2025)

https://www.profitablecpmratenetwork.com/b7e1eqj3ip?key=8182a95cafd5f4f6828255863b9fd6a4

Pos terkait