BABELINFONEWS.COM, PANGKALPINANG – Suasana senja di Masjid Agung Kubah Timah terasa khidmat saat Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna, menyampaikan tausiyah dalam agenda Tadzkirah Kubah Timah, Selasa (24/2/2026), menjelang waktu berbuka puasa.
Di hadapan jamaah, Dessy tidak hanya berbicara sebagai pejabat publik, tetapi juga sebagai seorang perempuan, ibu, dan istri. Ia menyampaikan pesan yang menyentuh tentang pentingnya empati sebagai kekuatan utama dalam kehidupan sosial, khususnya bagi kaum perempuan.

Dalam tausiyahnya, Dessy menuturkan bahwa perempuan memiliki keistimewaan berupa kepekaan hati yang mampu merasakan kesedihan dan kebutuhan orang lain, bahkan sebelum hal tersebut diungkapkan.
“Kepekaan itu adalah kekuatan. Jangan hanya kita rasakan di bulan Ramadan, tetapi harus kita rawat dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia juga menyinggung peran perempuan dalam berbagai peristiwa kebencanaan di wilayah Sumatera. Menurutnya, perempuan kerap menjadi penggerak awal lahirnya aksi solidaritas sosial.

Tanpa menunggu komando, kata Dessy, banyak perempuan yang langsung bergerak mengumpulkan bantuan, membangun kepedulian, hingga menghadirkan harapan bagi para korban terdampak bencana.
“Empati yang tumbuh dari rumah dan keluarga bisa menjadi energi sosial yang besar bagi masyarakat,” ungkapnya.
Sebagai Wakil Wali Kota, Dessy mengakui bahwa tanggung jawab yang diembannya tidaklah ringan. Berbagai persoalan masyarakat harus dihadapi setiap hari, mulai dari infrastruktur, kebersihan lingkungan, banjir, hingga layanan kesehatan dan administrasi BPJS.
Namun di tengah padatnya aktivitas pemerintahan, ia tetap berupaya menjaga keseimbangan peran dalam kehidupan keluarga.
“Amanah ini adalah titipan dari Allah SWT. Maka saya berusaha menjalaninya dengan tulus dan penuh tanggung jawab, baik di rumah maupun dalam pemerintahan,” katanya.
Dessy juga mengenang masa saat dirinya memimpin PKK, di mana interaksi dengan kaum ibu menjadi bagian utama dari aktivitasnya. Kini, dengan tanggung jawab yang lebih luas, ia menghadapi dinamika persoalan yang lebih kompleks di tengah masyarakat.
Meski demikian, ia meyakini bahwa empati tetap menjadi kunci dalam setiap kebijakan dan keputusan yang diambil.
Menutup tausiyahnya, Dessy mengajak seluruh perempuan untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat komitmen dalam berbuat kebaikan.
“Jangan pernah ragu untuk berbuat baik. Kita tidak pernah tahu, kebaikan mana yang kelak menjadi penolong kita,” pesannya.
Suasana pun ditutup dengan nuansa haru dan refleksi, seiring lantunan doa yang mengiringi datangnya waktu berbuka puasa.














