Oleh: Nurul Anisyah, Nur Fatimah Ramadina, Delvia Triananda, Iryanti, Muhammad Febrian Arifin (Mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis Universitas Bangka Belitung)
OPINI — Di ekosistem kewirausahaan mahasiswa, inovasi sering menjadi pusat perhatian. Mahasiswa didorong menciptakan produk unik, membangun branding menarik, hingga membuat presentasi bisnis yang meyakinkan. Namun di balik semangat itu, ada satu hal yang kerap diabaikan yaitu manajemen biaya. Kasus DRUMS Dry Foam Shampoo menunjukkan bahwa bisnis tidak selalu gagal karena produknya buruk atau pasar tidak tertarik. Terkadang, bisnis justru tumbang karena pengelolaan biaya yang lemah.
DRUMS hadir dengan ide yang menjanjikan. Produk ini memanfaatkan bahan alami lokal Bangka Belitung untuk menghadirkan dry foam shampoo kucing tanpa bilas yang
praktis dan inovatif.
Di tahap awal, respon pasar cukup positif. Produk mendapat perhatian, penjualan mulai bergerak, dan promosi berjalan aktif. Namun ketika dukungan pendanaan eksternal berakhir, usaha mulai kehilangan stabilitas. Masalah utamanya ternyata bukan pada inovasi, melainkan pada cara biaya dikelola. Menurut wawancara dengan ketua tim yaitu Ultami Faziati, Kesalahan pertama muncul dari klasifikasi biaya yang tidak tepat. Berbagai peralatan yang memiliki umur pakai Panjang seperti blender, timbangan, tripod banner, hingga website langsung dicatat sebagai beban operasional. Padahal, pengeluaran tersebut seharusnya dikategorikan sebagai aset tetap dan dialokasikan melalui penyusutan.
Kesalahan seperti ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Laporan laba rugi menjadi tampak “berat” di awal, sementara gambaran profitabilitas usaha menjadi bias. Lebih jauh lagi, biaya promosi dan biaya produksi tercampur sehingga pelaku usaha kesulitan mengetahui berapa sebenarnya biaya untuk menghasilkan satu
produk.
Masalah kedua terletak pada perhitungan harga pokok produksi (HPP) yang terlalu rendah. Ketika biaya kemasan saja melebihi HPP yang dicatat, itu menandakan ada komponen biaya yang belum dihitung secara utuh. Bahan baku detail per unit, tenaga kerja langsung, dan overhead produksi belum dimasukkan secara menyeluruh.
Akibatnya, laba yang terlihat di laporan berpotensi menjadi “laba semu”. Di atas kertas bisnis tampak menghasilkan keuntungan, tetapi arus kas justru terus tertekan. Ketika angka dasar sudah keliru, analisis lanjutan seperti Break Even Point (BEP) dan Cost Volume Profit (CVP) pun ikut meleset. Target penjualan terlihat mudah dicapai,
padahal margin keuntungan sebenarnya jauh lebih tipis.
Kesalahan berikutnya adalah strategi pengeluaran yang terlalu agresif pada fase awal bisnis. DRUMS mencoba melakukan banyak hal sekaligus seperti menambah varian aroma, memperbesar ukuran kemasan, meningkatkan promosi berbayar, hingga memberikan bonus pelanggan. Strategi tersebut memang terlihat progresif, tetapi jika dijalankan tanpa pengujian bertahap dan tanpa ukuran efektivitas yang jelas. Akibatnya, biaya pemasaran
berubah menjadi pengeluaran konsumtif, bukan investasi yang terukur. Ketika program pendanaan selesai, struktur biaya yang sudah terlanjur besar tidak mampu ditopang oleh pendapatan yang stabil.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa banyak bisnis kecil sebenarnya tidak kekurangan ide. Yang sering kurang adalah disiplin dalam mengelola biaya. Banyak program kewirausahaan terlalu fokus mengajarkan cara menjual ide, tetapi
belum cukup membiasakan mahasiswa memahami arus kas, struktur biaya, dan pencatatan keuangan yang sehat. Padahal dalam praktik bisnis, kreativitas tanpa kontrol biaya dapat berubah menjadi jebakan.
Ada beberapa pelajaran penting yang seharusnya diterapkan sejak awal. Pertama, usaha kecil harus mampu membedakan pengeluaran jangka panjang dan biaya operasional harian. Peralatan yang digunakan bertahun-tahun seharusnya dicatat sebagai aset tetap, bukan langsung dibebankan sekaligus.
Kedua, perhitungan HPP harus dilakukan secara penuh melalui pendekatan full costing. Seluruh komponen biaya mulai dari bahan baku, tenaga kerja langsung, hingga overhead harus dihitung secara realistis. Tanpa HPP yang akurat, penetapan harga hanyalah tebakan yang berisiko.
Ketiga, analisis CVP dan BEP seharusnya digunakan sebagai alat pengambilan keputusan. Pelaku usaha perlu memahami produk mana yang paling cepat menghasilkan margin dan strategi mana yang benar-benar efektif.
Terakhir, setiap pengeluaran harus memiliki prioritas yang jelas. Tidak semua inovasi perlu dijalankan sekaligus. Dalam tahap awal bisnis, menguji satu strategi yang paling potensial sering kali lebih sehat daripada mengejar banyak ekspansi secara bersamaan.
Pada akhirnya, keberlanjutan bisnis bukan ditentukan oleh seberapa banyak ide yang dieksekusi, melainkan oleh seberapa tepat biaya diarahkan untuk mendukung ide yang benar. DRUMS menunjukkan bahwa sebuah produk bisa saja disukai pasar, tetapi hanya tata kelola biaya yang baik yang mampu memastikan bisnis tetap
bernapas setelah tepuk tangan mereda.




















