Pandemi dan Manajemen Biaya: Penyebab Turunnya Usaha Food and Beverage

Foto: Mahasiswa UBB
Foto: Mahasiswa UBB

Oleh: Fabian Alishan, Felicia, Faturrachman Agung Satrio, Khusna, Dini Amanda (Mahasiswa Universitas Bangka Belitung)

BABELINFONEWS.COM, OPINI — Pandemi COVID-19 menjadi salah satu bencana terbesar bagi bisnis, terutama industri makanan dan minuman. Banyak bisnis yang dulunya berjalan dengan baik akhirnya mengalami penurunan drastis sehingga mereka harus menutup. Kondisi ini menunjukkan bahwa bisnis membutuhkan produk yang baik selain kemampuan mengelola biaya dan mempertahankan stabilitas keuangan selama krisis. Sebagai contoh, salah satu usaha F&B yang berdiri sejak tahun 2017 akhirnya mengalami penurunan hingga pandemi melanda dan dijual kepada pemilik baru.

Usaha ini awalnya berfokus pada makanan dan minuman dengan target utama pelanggan kantin dan lingkungan sekitar. Meskipun perusahaan sekarang dimiliki oleh orang lain, perjalanan bisnisnya telah mengajarkan kita banyak tentang pentingnya manajemen biaya untuk mempertahankan keberlangsungan bisnis. Usaha ini masih mampu berjalan dengan baik sebelum pandemi dan memiliki pencatatan keuangan yang cukup teratur. Namun, sejak COVID-19 muncul dan aktivitas masyarakat dilarang, keadaan mulai berubah.

Penjualan kantin turun drastis selama pandemi. Berkurangnya interaksi tatap muka mengurangi jumlah pelanggan. Akibatnya, pendapatan usaha tidak lagi cukup untuk menutupi biaya operasional yang terus berjalan. Sebaliknya, usaha tetap harus mengeluarkan biaya tetap, seperti gaji karyawan dan biaya operasional lainnya. Akibatnya, arus kas bisnis mulai terganggu, dan pemilik menghadapi kesulitan untuk mengatur baik pendapatan maupun pengeluaran.

Biaya operasional yang tinggi dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh adalah masalah utama usaha ini jika dianalisis menggunakan konsep manajemen biaya. Sebuah usaha harus mampu menjaga keseimbangan antara biaya, volume penjualan, dan laba menurut konsep Cost-Volume-Profit (CVP). Jika volume penjualan turun secara signifikan, maka laba otomatis turun. Usaha akan mengalami kerugian, bahkan jika penjualan berada di bawah titik tertentu. Usaha tersebut berada dalam kondisi ini selama pandemi.

Selain itu, usaha menghadapi masalah pada Break Even Point (BEP), juga dikenal sebagai titik impas. BEP adalah kondisi ketika total biaya yang dikeluarkan sama dengan total pendapatan. Penjualan yang menurun selama pandemi membuat usaha sulit mencapai titik impas. Meskipun bisnis tetap beroperasi, pendapatan yang diperoleh tidak cukup untuk membayar biaya tetap seperti gaji dan operasi harian. Oleh karena itu, usaha terus mengalami masalah keuangan.

Biaya jelas merupakan beban terbesar bagi usaha dalam hal ini. Pengeluaran karyawan dan biaya operasional yang tidak disesuaikan dengan kondisi pendapatan membuat usaha semakin sulit untuk bertahan. Ketika penjualan turun drastis, pemilik usaha harus mempertimbangkan untuk mengurangi biaya yang lebih penting atau relevan. Mereka dapat melakukannya dengan mengurangi biaya yang tidak penting, meningkatkan efisiensi tenaga kerja, atau mengubah strategi penjualan mereka untuk mempertahankan pemasukan.

Namun, banyak usaha kecil dan menengah (UMKM) mengalami kesulitan membuat keputusan di tengah kondisi yang tidak pasti. Hampir seluruh sektor ekonomi terkena dampak pandemi, yang muncul secara tiba-tiba. Ini menyebabkan banyak usaha tidak mempersiapkan diri untuk krisis jangka panjang. Pemilik usaha akhirnya memutuskan untuk menjualnya karena tekanan keuangan yang terus-menerus.

Dari kasus ini, jelas bahwa usaha tidak dapat bertahan hanya dengan pencatatan keuangan. Selain itu, pelaku usaha harus memiliki pengetahuan tentang cara mengelola biaya secara strategis. Kesalahan dalam pengambilan keputusan biaya dapat memengaruhi operasi dan keberlanjutan usaha. Ketika biaya lebih besar daripada pendapatan dalam waktu lama, usaha akan sulit bertahan meskipun memiliki produk yang bagus.

Pada akhirnya, kasus usaha F&B ini menunjukkan bahwa tidak hanya penjualan yang banyak yang menentukan keberhasilan usaha, tetapi juga kemampuan untuk mengelola biaya dan membuat keputusan keuangan yang tepat. Meskipun pandemi merupakan faktor luar yang sulit dihindari, manajemen biaya yang efektif dapat membantu perusahaan bertahan dalam situasi sulit. Oleh karena itu, pelaku usaha harus memahami konsep manajemen biaya, melakukan evaluasi keuangan secara teratur, dan membuat strategi adaptasi untuk memastikan bisnis mereka terus beroperasi.

Bacaan Lainnya

Pos terkait