Ketika UMKM Kuliner Tumbang Karena Biaya dan Ekonomi Daerah

Foto: Instagram/angkringanhc
Foto: Instagram/angkringanhc

Oleh : Zuhdi Rizaldi, Tasia Amalia, Soni Septiawan, Tasya Noya (Mahasiswa Universitas Bangka Belitung)

OPINI — Di tengah perkembangan usaha kuliner yang semakin pesat, banyak orang mengira bahwa bisnis makanan akan selalu memiliki peluang besar untuk bertahan. Namun kenyataannya, tidak sedikit usaha kuliner justru mengalami penurunan bahkan terpaksa tutup karena persoalan biaya dan kondisi ekonomi yang tidak stabil. Hal inilah yang dialami oleh salah satu UMKM penjual sate taichan di daerah Kepulauan Bangka Belitung.

 

Usaha ini berdiri sejak tahun 2020 berawal dari hobi memasak pemiliknya. Dengan modal sederhana dan dukungan keluarga, usaha sate taichan tersebut mulai dijalankan secara perlahan. Pada awal berdiri, tantangan terbesar adalah memperkenalkan produk kepada masyarakat karena usaha tersebut masih baru dan belum memiliki pelanggan tetap. Meski begitu, seiring waktu usaha mulai dikenal dan mampu bertahan selama beberapa tahun.

Namun memasuki tahun 2025, kondisi usaha mulai mengalami penurunan secara perlahan. Penjualan menurun, pelanggan semakin berkurang, hingga akhirnya usaha berhenti beroperasi sementara. Penyebab utamanya ternyata bukan hanya soal persaingan usaha, tetapi juga kondisi ekonomi daerah yang ikut melemah.

Di daerah pertambangan seperti Bangka Belitung, kondisi ekonomi masyarakat sangat dipengaruhi oleh harga timah. Ketika harga timah tidak stabil, pendapatan masyarakat ikut menurun. Banyak pekerja perantauan kembali ke kampung halaman sehingga aktivitas ekonomi di daerah menjadi lebih sepi. Dampaknya langsung terasa pada UMKM kuliner karena daya beli masyarakat ikut menurun.

Masalah lain yang memperparah keadaan adalah kenaikan biaya bahan baku. Harga ayam, cabai, minyak, hingga gas terus mengalami kenaikan. Di sisi lain, pelaku usaha tidak bisa sembarangan menaikkan harga jual karena khawatir pelanggan semakin berkurang. Akibatnya, keuntungan yang diperoleh semakin kecil bahkan tidak mampu menutupi biaya operasional harian.

Kasus ini menunjukkan bahwa banyak UMKM sebenarnya belum memiliki pengelolaan biaya yang benar-benar matang. Sebagian besar pelaku usaha masih menentukan harga jual dengan mengikuti harga pasar tanpa menghitung secara detail seluruh biaya yang dikeluarkan. Padahal dalam manajemen biaya, penentuan harga jual seharusnya mempertimbangkan biaya tetap, biaya variabel, serta target keuntungan yang ingin dicapai.

Selain itu, pelaku usaha juga sering mengambil keputusan jangka pendek yang justru berdampak pada keberlangsungan usaha. Misalnya, ketika kondisi sulit mereka memilih mengurangi stok bahan baku untuk menghemat pengeluaran. Memang langkah ini dapat menekan biaya sementara, tetapi jika dilakukan terus-menerus bisa menyebabkan pelanggan kecewa karena produk sering kosong atau pilihan menu menjadi terbatas.

Fenomena ini menjadi pelajaran penting bahwa UMKM tidak cukup hanya mengandalkan semangat dan kemampuan memasak saja. Pelaku usaha juga harus memahami dasar-dasar manajemen biaya agar mampu bertahan di tengah kondisi ekonomi yang berubah-ubah. Menghitung harga pokok produksi, mengetahui titik impas penjualan, hingga mengontrol biaya operasional merupakan hal penting yang sering dianggap sepele oleh usaha kecil.

Di era sekarang, UMKM juga perlu lebih adaptif terhadap perubahan pasar. Ketika pelanggan di sekitar mulai berkurang, maka pemasaran digital harus mulai dimanfaatkan. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp bisa menjadi sarana promosi yang murah tetapi efektif untuk menjangkau konsumen lebih luas. Selain itu, bekerja sama dengan layanan pesan antar online juga dapat membantu meningkatkan penjualan tanpa harus bergantung pada pelanggan sekitar lokasi usaha.

Pada akhirnya, kasus usaha sate taichan ini membuktikan bahwa kegagalan bisnis tidak selalu disebabkan oleh produk yang buruk. Kadang masalah terbesar justru berasal dari pengelolaan biaya yang kurang tepat dan ketidaksiapan menghadapi perubahan ekonomi. Karena itu, UMKM perlu memiliki kemampuan manajemen yang baik agar tidak mudah tumbang ketika kondisi pasar sedang sulit.

Usaha kecil merupakan bagian penting dari perekonomian daerah. Jika UMKM mampu bertahan dan berkembang, maka perputaran ekonomi masyarakat juga akan semakin kuat. Oleh sebab itu, pelajaran dari kasus ini seharusnya menjadi pengingat bagi pelaku usaha lain bahwa memahami manajemen biaya bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk menjaga keberlangsungan bisnis di masa depan.

Pos terkait